Itkontama Travel

Tangerang, itkontamatravel.id – Perjalanan dan pelaksanaan haji dalam Islam termasuk salah satu bentuk rukun Islam. Ibadah haji juga telah disebutkan dalam hadits-hadits shahih yang hukumnya fardhu, dan harus dilakukan sekali seumur hidup bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat.

Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah SAW berkhutbah pada kami, ‘Wahai manusia, Allah telah mewajibkan kepada kalian haji, maka tunaikanlah.’ Seseorang berkata pada beliau, ‘Apakah harus setiap tahun wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Jika ku katakan ya, maka wajib, dan belum tentu kalian mampu.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Nasa’i)

Untuk melaksanakan ibadah haji, seseorang harus memenuhi syarat yang diwajibkan. Sebab, apabila salah satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi, ibadah yang dilakukannya tidak sah, dan ia tidak wajib untuk melaksanakannya.

Abdul Syukur Al-Azizi dalam bukunya Kitab Lengkap dan Praktis Fiqh Wanita menyebutkan bahwa orang yang diwajibkan untuk melaksanakan haji adalah orang yang memiliki syarat wajib haji, yakni beragama Islam, berakal (tidak gila), telah baligh, merdeka, dan kuasa atau mampu.

Wajib Haji

Wajib haji adalah segala sesuatu yang wajib dikerjakan oleh setiap jemaah yang melaksanakan ibadah tersebut. Apabila tidak dikerjakan, seorang jemaah harus membayar dam atau denda namun hajinya akan tetap sah. Adapun yang termasuk ke dalam wajib haji antara lain:

  • Ihram dan Miqat, yaitu Miqat Makani dan Zamani yang telah ditentukan. Miqat Zamani adalah miqot yang berhubungan dengan batas waktu, tanggal dan bulan-bulan hitungan haji. Sedangkan Miqat Makani adalah miqot yang berdasarkan pada peta atau batas tanah geografis.
  • Bermalam di Muzdalifah setelah jamaah haji selesai melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Selanjutnya bergerak menuju Muzdalifah pada malam tanggal 10 Dzulhijjah setelah terbenamnya matahari. Setelah itu melaksanakan shalat Maghrib dan Isya lalu bermalam di sana hingga terbitnya fajar.
  • Melempar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah.
  • Melempar jumrah di Mina selama 3 hari dengan ketentuan sehari 3 lemparan dan masing-masing 7 batu (Jumrah Ula, Wustha, dan Jumrah Aqobah).
  • Bermalam di Mina pada hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.
  • Tawaf Wada’ atau thawaf perpisahan adalah amalan terakhir bagi orang yang menjalankan haji sebelum ia meninggalkan Mekkah, setelah itu tidak ada lagi amalan yang wajib dikerjakan.
  • Meninggalkan larangan-larangan saat ihram, seperti tidak boleh memakai pakaian berjahit, penutup kepala, penutup wajah, sarung tangan, parfum, mencukur rambut, menikah, membunuh binatang, dan melakukan hubungan suami istri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *