Itkontama Travel

Tangerang, itkontamatravel.id – Hari tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha atau tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa hari tersebut masuk dalam hari Id.

Keutamaan Hari Tasyrik Menurut Rasulullah SAW:

1. Waktu yang Dianjurkan untuk Memperbanyak Takbir dan Zikir

Muhammad Nasir al-Din Albani mengatakan dalam Ringkasan Shahih Bukhari bahwa Ibnu Abbas RA berkata, “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan” (QS Al Hajj: 28).

Hari yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama dalam bulan Dzulhijjah dan beberapa hari yang terbilang (QS Al Baqarah: 203) adalah hari-hari tasyrik. Pendapat ini di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid dari Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas.

Selain itu, para wanita pada waktu itu biasa bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari tasyrik bersama kaum laki-laki di masjid. Sebagaimana di-maushul-kan oleh Abu Bakar Ibnu Abid Dunya dalam Kitab al-Idain.

Keutamaan hari tasyrik sebagai waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak takbir juga bersandar pada suatu hadits yang berbunyi, “Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan banyak mengingat Allah,” (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i).

Selain itu, Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa Umar dan Abu Hurairah ke pasar pada hari-hari tasyrik, lalu keduanya bertakbir dan orang-orang pun bertakbir mengikuti takbir keduanya.

2. Waktu yang Paling Utama untuk Lempar Jumrah

Sayyid Sabiq mengatakan dalam Fiqih Sunnah Jilid 3, hari tasyrik adalah waktu yang paling utama untuk melempar jumrah. Pelemparan dimulai sejak matahari tergelincir pada tengah hari hingga terbenam di ufuk barat.

Pendapat ini mengacu pada sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW melempar jumrah ketika matahari tergelincir atau setelah matahari tergelincir (HR Ahmad, Ibnu Majah, At Tirmidzi. Hadits ini termasuk hadits hasan).

3. Memiliki Kesamaan sebagaimana Idul Adha

Imam Nawawi dalam al Minhaj Syarh Shahih Muslim mengatakan bahwa hari tasyrik memiliki kesamaan sebagaimana Idul Adha dalam hal hukum yang berlaku. Di antaranya dalam waktu penyembelihan kurban, diharamkan untuk berpuasa sebagaimana hari Idul Adha, dan dianjurkan untuk bertakbir sepanjang waktu tersebut.

4. Hari yang Dilarang untuk Berpuasa

Hari tasyrik termasuk hari yang dilarang untuk berpuasa. Sebab, Rasulullah SAW bersabda, “Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum,” (HR Muslim).

Selain itu, Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Biysr bin Suhaim bahwa Rasulullah SAW pernah berkutbah pada hari-hari tasyrik, “Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang bersih dan ini adalah hari-hari makan dan minum.”

Sementara itu, Abdul Wahid dalam Rahasia dan Keutamaan Puasa Sunah mengatakan, Imam Malik, al Auza’i, Ishaq, dan Imam Asy Syafi’i dalam satu pendapatnya menyatakan bahwa boleh berpuasa pada hari tasyrik bagi orang yang tamattu’ apabila tidak memperoleh al hadyu (sembelihan kurban). Namun, untuk selain mereka tidak diperbolehkan untuk berpuasa pada hari tasyrik.

Rasulullah SAW sempat menyampaikan khutbah perpisahan pada pertengahan hari-hari tasyrik. Beliau bersabda,

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb kalian satu dan sesungguhnya bapak kalian satu; ketahuilah, bahwa tidak ada keutamaan orang Arab atas A’jam (non Arab) dan tidak ada keutamaan orang A’jam atas orang Arab; tidak ada keutamaan orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak ada keutamaan orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali karena takwanya,” (HR Al Baihaqi dari Jabir. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at Targhib).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *