Itkontama Travel

Tangerang, itkontamatravel.id – Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Ibadah ini wajib dilakukan oleh orang yang sudah mampu. Mampu dalam hal ini yaitu mampu secara fisik, mental dan tak ketinggalan juga mampu secara finansial.

A. Berulang-ulang dan buang harta

Pada dasarnya kita boleh saja untuk melakukan haji lebih dari satu kali bahkan hukumnya sunah. Akan tetapi perlu diketahui bahwa kesunahan tersebut akan menjadi makruh apabila dalam kasus tertentu secara subjektif.

Misalnya bila seseorang yang bertempat tinggal di daerah yang kumuh dan terbelakang, serta miskin dan sangat membutuhkan bantuan secara finansial. Akan tetapi orang gtersebut tidak mau membantu dnegan cara memberikan sebagian hartanya untuk mereka.

Alasannya karena orang tersebut ingin berangkat haji setiap tahun, maka dalam hal ini hukum melaksanakan hajinya menjadi makruh atau kurang disukai. Hal itu terjadi karena orang tersebut hanya mementingkan ibadahnya sendiri, padahal hukumnya sunnah.

Sementara orang yang berada disekitar rumahnya kelaparan, harusnya orang tersebut lebih mementingkan kondisi disekitar rumahnya dengan memberi makan karena hukumnya wajib.

Jadi intinya adalah apabila seseorang terdapat kewajiban yang terhalang untuk dikerjakannya hanya karena mengejar amalan yang hukumnya sunnah, maka ibadah sunnah yang dilakukannya berubah menjadi makruh bahkan haram.

Dalam Islam, amal ibadah mengenal istilah muwazanah ( prioritas ), tidak dibenarkan seseorang lebih mengamalkan yang sunnah jika hal itu menjadi penyebab terbengkelainya kewajiban.

Dalam perspektif fikih, tindakan tersebut termasuk kedalam perbuatan haram. Karena ketika memilih ibadah yang sunnah menjadi wasilah bagi terlaksananya perbuatan yang haram, meninggalkan yang wajib.

B. Wanita tanpa Izin suami

Kondisi seperti itu hukumnya menjadi makruh. Wanita yang berangkat haji tanpa mendapatkan izin dari suaminya atau anak kecil dari orang tuanya hukumnya makruh.

Jadi kitapun jangan merasa aman jika melakukan sesuatu yang makruh. Sudah seharusnya kita meninggalkan hal-hal yang makruh dan dibenci oleh Allah, jika ada hal-hal yang meragukan maka lebih baik tinggalkan.

Hal ini dijelaskan pula dalam hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang berbunyi : Dari Abu Abdillah Nu’manbin Basyir ra dia berkata : Saya mendengar Rasululloh bersabda :

“ sebenarnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu juga sudah jelas. Antara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat ) yang tidak diketahui oleh kebanyak orang. Maka siapa saja yang takut akan syubhat artinya dia telah menyelamatkan kehormatan dan agama. Dan siapa saja yang terjerumus pada perkara syubhat maka bisa terjerumus dalam perkara yang diharamkan.”.

Ulama Hanafiyyah membagi makruh kedalam dua macam yaitu makruh tanzih dan makruh tahrim. Makruh tanzih merupakan seusatu yang dituntut syar’I untuk ditinggalkan, tetaoi dengan tuntutan yang tidak pasti, dengan kata lain makruh ini lebih dekat kepada yang halal.

Sedangkan makruh tahrim yaitu tuntutan syar’I untuk meninggalkansuatu perbuatan dan tuntutan tersebut dnegan cara yang pasti, namun didasarkan kepada yang zhanni, atau bisa dikatakan maruh kepada yang dekat dengan yang haram.

Oleh karena itu bagi yang berkeinginan untuk mengamalkan yang sunnah dengan pergi haji lebih dari satu kali maka hendaknya berpikir ulang. Jangan sampai kita sudah mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga termasuk dalam kategori mengamalkan yang sunnah daripada yang wajib.

Perhatikan kondisi di sekeliling kita. Masihkah ada yang kekurangan dan kelaparan? Jika ternyata ada, maka mengurungkan niat untuk berangkat haji yang kedua, ketiga dan keempat adalah pilihan yang bijak.

🕋 Informasi Program Umroh Musim 1443 H/2022M 🕋

👇🏻👇🏻
https://itkontamatravel.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *