Itkontama Travel

Tangerang, itkontamatravel.id- Saat ini, jemaah haji sudah melewati rangkaian ibadah di Arafah dan Muzdalifah. Kini, mereka melanjutkan ibadah haji dengan melakukan lempar jumrah di Mina.

Dibalik ibadah lempar jumrah, rupanya ada sejarah. Sejarah lempar jumrah ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail.

Lempar jumrah dilakukan jemaah haji sebagai simbol melempar setan yang dijelmakan dalam tiga bagian, yaitu jumrah ula (pertama) atau jumrah sughra, jumrah wustha (tengah), dan jumrah ‘aqabah (terakhir).

Dalam pelaksanaan lempar jumrah, ada hal-hal yang perlu kita ketahui. Agar kita menjalankan syariat-syariat yang dijalankan selama pelaksanaan ibadah haji.

Ukuran Batu Jumrah

Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, telah menentukan ukuran batu yang dipakai untuk lempar jumrah, yaitu tidak lebih kecil dari biji kacang hijau dan tidak lebih besar dari batu ketapel. Lebih tepatnya ialah sebesar biji kacang tanah.

Hikmah dibalik penentuan ukuran ini ialah agar tidak menyakiti orang seadainya lemparannya luput, selain agar tidak terjadi praktik ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menjalankan ajaran agama. Penentuan ukuran seperti ini didasarkan pada beberapa dalil berikut:

1.) Riwayat dari Jabir, “Aku pernah melihat Rasullah Saw. Melempar jumrah dengan batu kecil (kerikil),” dikutip dari HR al-Turmudzi.

2.) Riwayat ‘Abdurrahman al-taymi.

3.) Sabda Rasullah SAW, “Wahai umat manusia,janganlah kalian saling menyakiti satu sama lain. Jika klaian melempar jumrah,gunakanlah batu yang kecil,” dikutip dari HR Abu Dawud.

4.) Riwayat dari Ibnu Abbas,”Rasullah bersabda,”Tolong carikan batu untukku!” Aku langsung bergegas mencari batu-batu kecil (kerikil) untuk beliau. Saat aku meletakkan batu-batu itu di tangannya, beliau bersabda, ‘sebesar inilah (batu untuk melempar jumrah). Hindarilah sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama.sesungguhnya kehancuran umat sebelum kalian ialah karena sikap berlebih-lebihan dalam beragama,” dikutip dari HR Ahmad dan al-Nasa’i.

Fukuha sepakat batu yang dipakai harus benar-benar suci. Mereka juga sepakat bahwa lempar jumrah tidak boleh dilakukan dengan selain batu seperti besi, kayu, kaca, intan mutiara, emas, perak dan sejenisnya.

“Lempar jumrah boleh dilakukan dengan apa saja yang terbuat dari tanah, baik berupa batu, kereweng, debu maupun lumpur,” tulis ‘Ablah.

Tempat Mencari Batu

Jumrah Untuk melempar jumrah ‘aqabah pada hari Nahar, jemaah haji perempuan disunahkan mencari batu kerikil di Muzdalifah, sehingga dirinya bisa lebih siap tiba di Mina. Adapun, untuk lempar jumrah pada hari-hari tasrik di Mina, “Boleh mencari batu kerikil di mana saja,” tulis ‘Ablah.

Dalam hal ini, Rasullah SAW telah memberi kita teladan. Beliau mencari tujuh kerikil di Muzdalifah untuk lempar jumrah ‘aqabah, sedangkan 21 kerikil lainnya di Mina untuk lempar jumrah pada tiga hari tasrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *