Itkontama Travel

Tangerang, itkontamatravel.id – Amalan yang sangat utama ini memiliki adab-adab yang harus diperhatikan ketika kita melakukannya. Agar mendapatkan pahala dan keutamaannya. Apa saja adab-adab yang perlu kita perhatikan dalam berzikir ? Simak selengkapnya…

1. Zikir boleh dilakukan dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, berjalan atau berkendaraan

Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala dalam surat An-Nisa ayat 103 yang artinya : “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” 

Berzikir ketika berjalan, berkendaraan, bekerja lebih baik dibandingkan menyanyikan lagu-lagu yang tidak bermanfaat dan dapat membutakan hati. Dengan berzikir, hati menjadi tenang, pahala besar dan diridhoi Allah.

2. Boleh zikir dalam keadaan hadats kecil, hadats besar, haidh dan nifas

Tidak ada larangan berzikir dalam kondisi-kondisi tersebut. Yang dilarang adalah membaca Al Quran atau menyentuh mushaf, itupun masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. 

Tapi sebaiknya lebih terhormat melakukannya dalam keadaan suci, karena itu adalah penghormatan terhadap Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berzikir dalam setiap keadaan. Tapi Rasulullah juga enggan menyebut nama Allah kecuali dalam keadaan suci. Sebagaimana hadits dari Al-Muhajir bin Qunfudz yang memberi salam kepada Rasulullah dan beliau sedang berwudhu. Beliau tidak menjawab sampai wudhunya selesai. Begitu selesai beliau bersabda, “Tak ada yang menghalangiku untuk menjawab salammu, hanya saja aku tak suka menyebut nama Allah kecuali dalam keadaan suci.”

3. Zikir sebaiknya dilakukan dengan suara pelan dan khusyuk

Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 205 yang artinya, “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

Zikir harus dilakukan dengan suara pelan dan tadharru’ (merasa takut) karena diawasi oleh Allah. Itulah zikir yang sempurna, bukan hanya lisan yang menyebut kalimatnya tapi juga hati yang tunduk sesuai esensi zikir itu sendiri. 

Wallahu’alam.

Semoga bermanfaat

Sumber : Thariqus Shalihin (Anshari Taslim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *