Itkontama Travel

Tangerang, itkontamatravel.id- Puasa merupakan salah satu rukun Islam. Ibadah ini banyak sekali keutamaan, salah satunya memiliki pahala yang berlimpah dari Allah SWT.

Jadi, bukan berarti semua umat muslim dapat melaksanakan puasa kapanpun karena ingin mendapat pahala. Ada waktu-waktu tertentu. Adapula waktu tertentu yang dilarang.

1. Hari Raya Idul Fitri

Pada tanggal 1 Syawal umat muslim seluruh dunia merayakan Idul Fitri dengan suka cita. Nah, dihari-hari tersebut dilarang untuk kamu kunjungi lho, Ma. Sebab, di hari raya umat muslim lebih disarankan untuk makan makanan yang banyak sebagai bentuk rasa syukur.

Larangan ini pun tertuang dalam hadis riwayat Muslim sebagai berikut,

Rasulullah SAW melarang umatnya merayakan di dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha. Dari Abu Sa’id Al Khudri ra, berkata:

اللَّهِ -صلى الله ليه لم- امِ الْفِطْرِ ال.

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang doa pada hari yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR.Muslim)

2. Hari Raya Idul Adha

Sama halnya dengan Idulfitri, Idul Adha merupakan hari raya untuk umat muslim sehingga dilarang untuk membaca.

Dalam riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW telah melarang untuk merayakan di dua hari raya yaitu Idulfitri dan Idul Adha.

Dari Abi Ubaid Maula Ibn Azhar berkata, “Aku menyaksikan hari raya bersama Umar bin al Khattab, beliau berkata: ini adalah dua hari yang dilarang Rasulullah SAW untuk mandi, yakni hari berbukanya kalian dari puasa, dan hari lainnya kalian makan di dalamnya dari hewan sembelihan kalian.” (HR.Bukhori)

3. Hari Tasyrik

Hari Tasyrik jatuh pada 11-13 Dzulhijjah atau tiga hari setelah Idul Adha. Pada hari Tasyrik umat muslim lebih disukai untuk makan dan minum pada hari tersebut dilarang untuk Anda minum.

Sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim, dari Nubaisyah Al Hudzali berkata, nabi SAW bersabda:

امُ التَّشْرِيقِ امُ لٍ

Artinya: “Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR.Muslim).

4. Puasa Hari Syak

Diharamkan untuk umat muslim di hari ke 30 pada bulan Sya’ban kecuali bertujuan untuk mengganti (qadha) puasa Ramadhan sebelumnya.

Berikut ini hadis yang menjadi dasar larangan puasa di hari Syak sebagaimana diriwayatkan dalam Bukhari dan al Hakim:

امَ الشَّكِّ ا القَاسِمِ لَّى اللهُ لَيْهِ لَّمَ

Artinya: “Siapa yang puasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qosim (Nabi Muhammad) shallallahu’alaihi wa sallam.” (HR.Bukhari & al-Hakim).

5. Puasa saat haid atau nifas

Saat perempuan sedang dalam keadaan haid atau nifas diharamkan untuk istirahat. Seorang perempuan bolehlah kembali jika ia telah selesai haid atau nifas dan sudah mandi junub.

Larangan tentang istirahat saat haid atau nifas sesuai sabda Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Bukhari yang artinya:

“Bukankah salah seorang di antara mereka (kaum wanita) apabila masa haid tidak mengerjakan sholat dan tidak menjalani latihan? Para sahabat wanita menjawab: Benar.” (HR.Bukhori).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *